Jayapura, newsoneindonesia.com 9 Desember 2025 — Jembatan Merah, salah satu ikon Kota Jayapura, tak hanya menjadi destinasi favorit warga dan wisatawan, tetapi juga menjadi saksi lahirnya kisah inspiratif anak muda Papua. Di lokasi inilah Son Tabuni, pemuda asli Lanny Jaya sekaligus aktivis masyarakat, berhasil merintis usaha fotografi beromzet jutaan rupiah setiap bulan.
Dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, Son Tabuni tetap mampu membagi waktu antara aktivitas sosial dan usaha mandirinya. Setiap hari, mulai pukul 16.00 WIT, Son membuka layanan fotografi di area Jembatan Merah. Ia memilih waktu sore hari agar tidak mengganggu agenda aktivismenya di siang hari.
Dengan peralatan sederhana dan semangat tinggi, Son menawarkan jasa “suting foto” cepat dengan harga sangat terjangkau.
Hanya dengan tarif Rp10.000 per sesi foto, layanan Son Tabuni berhasil menarik banyak pengunjung, terutama anak muda dan keluarga yang ingin mengabadikan momen di lokasi ikonik tersebut.
“Dalam sehari kami targetkan minimal Rp300.000. Kalau sedang ramai, bisa tembus Rp400.000,” ungkap Son.
Meski sederhana, model bisnis merakyat ini terbukti efektif. Konsistensi, keramahtamahan, dan pelayanan cepat membuat usahanya terus berkembang. Berkat kerja kerasnya, Son kini mampu mengantongi omzet kotor antara Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan.
Kisah perjuangan Son Tabuni mendapat dukungan kuat dari komunitas Lapago. Bung Wenda, salah satu tokoh pemuda Lanny Jaya, menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya.
“Saya sebagai anak Lanny sangat salut atas perjuangan saudara kita Son Tabuni. Beliau memberi inspirasi bagi anak-anak Lanny Jaya yang berstudi di Kota Jayapura,” ujarnya.
Bung Wenda menilai Son sebagai contoh nyata bahwa anak muda Papua dapat membangun kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan identitas dan kontribusi sosialnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bung Wenda menyampaikan pesan penting kepada pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota agar memberikan dukungan serius bagi anak-anak asli Papua yang memiliki visi besar.
“Pemerintah perlu perhatikan anak-anak asli Papua yang punya impian besar untuk meraih sukses,” tegasnya.
Ia juga memberi filosofi sederhana namun kuat:
“Jangan tunggu waktu mengedipkan mata dari A–Z baru mulai. Mulailah dari apa yang ada padamu. Tuhan pasti membangkitkan usaha kita jika setia dan jujur di tanah yang diberkahi ini.”
Bung Wenda kemudian mengajak seluruh anak muda intelektual Lapago untuk turun memberikan dukungan moral maupun motivasi.
“Jangan lupa singgah di Jembatan Merah untuk memberikan kontribusi dan semangat bagi generasi masa depan Lanny Jaya dan Provinsi Papua Pegunungan.”
Di akhir pesannya, Bung Wenda kembali menegaskan kebanggaannya terhadap ketekunan Son Tabuni yang mampu berdiri di antara aktivisme dan usaha mandiri.










