Beranda / Berita Daerah / Penginjil Patius Tabuni Menyampaikan Pembangunan Papua Harus Dimulai dari Pertobatan Sejati

Penginjil Patius Tabuni Menyampaikan Pembangunan Papua Harus Dimulai dari Pertobatan Sejati

Bagikan Berita

Newsoneindonesia.com| Jayapura–Pembangunan di Tanah Papua tidak boleh hanya dipandang sebagai urusan pembangunan infrastruktur fisik semata. Penginjil Patius Tabuni menegaskan bahwa fondasi utama bagi masa depan Papua yang cerah adalah pertobatan moral, spiritual, dan sosial, Selasa (20/01/2026).
Menurutnya, “Pembangunan Papua Dimulai dari Pertobatan” bukanlah sekadar slogan rohani, melainkan prasyarat mutlak agar pembangunan memiliki “jiwa” dan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Pertobatan sebagai Perubahan Arah Hidup. Penginjil. Patius Tabuni menjelaskan bahwa pertobatan atau metanoia berarti berbalik arah secara total.
Papua membutuhkan perubahan haluan dari kebencian menjadi kasih, dari kekerasan menuju damai, serta dari praktik korupsi menuju kejujuran yang transparan.
​”Tanpa perubahan hati, pembangunan hanya akan menjadi benda mati. Kita tidak hanya butuh jalan tol atau gedung megah, kita butuh hati yang benar untuk mengelolanya,” tegasnya.
Beliau menambahkan bahwa luka sejarah dan krisis kepercayaan hanya bisa dipulihkan melalui pengakuan, keadilan, dan nilai-nilai kebenaran.
Panggilan Pertobatan Kolektif
​Pesan ini ditujukan kepada seluruh elemen pemangku kepentingan di Papua untuk melakukan refleksi mendalam
​Pemimpin Diminta bertobat dari penyalahgunaan kekuasaan. Aparat, diminta mengedepankan kemanusiaan di atas kekerasan dan ketidakadilan.
Gereja: Diimbau untuk tidak lagi berkompromi atau berdiam diri terhadap dosa sosial.
Masyarakat: Diajak untuk meninggalkan semangat balas dendam dan perpecahan.
Mengutip nats Alkitab (2 Tawarikh 7:14), Penginjil. Patius Tabuni menekankan bahwa pemulihan negeri hanya terjadi jika umat merendahkan diri dan berbalik dari jalan yang jahat.
Peran Gereja sebagai Suara Kenabian. Gereja di Papua memegang tanggung jawab besar untuk tidak hanya menjadi penonton penderitaan rakyat.
Gereja harus berani menjalankan fungsi profetisnya menegur dosa, membela martabat manusia Papua, dan membentuk karakter generasi muda yang tangguh.
Mewujudkan Damai Sejahtera (Shalom) Pembangunan sejati diukur dari sejauh mana manusia dihargai dan tanah adat dihormati.
Penginjil, Patius Tabuni meyakini bahwa damai yang sejati lahir dari keadilan, bukan dari moncong senjata.
“Papua tidak kekurangan sumber daya alam. Papua hanya kekurangan pertobatan yang sejati. Jika hati manusianya dipulihkan, maka tanahnya akan disembuhkan.
 Jika manusia diubah, barulah Papua akan dibangun dengan benar,” tutupnya.
Ivan/Red

Bagikan Berita
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *