Lewati ke konten

Newsoneindonesia.com| Kabupaten Ngada–Seorang siswa kelas 4 sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBS, diduga mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi keluarga yang tak mampu membelikan buku dan pena untuk sekolah, Rabu (4/2/2026).
Kasus siswa SD bunuh diri di NTT menggemparkan publik dan memantik keprihatinan nasional. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026. YBS ditemukan meninggal dunia di sekitar pondok milik neneknya.
Siswa tersebut ditemukan tewas tergantung pada dahan pohon cengkeh yang berlokasi di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden itu terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026 sekitar pukul 11.00 WITA.
Dugaan sementara, korban nekat bunuh diri setelah merasa putus asa menghadapi kondisi hidup yang dialaminya.
Kasus siswa SD bunuh diri di NTT ini kini masih dalam proses pendalaman oleh kepolisian setempat.
Menurut keterangan yang dihimpun, sebelum kejadian YBS sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pena dengan harga kurang dari Rp10 ribu.
Namun permintaan itu tak dapat dipenuhi. Ibunya, MGT, mengaku tidak memiliki uang saat itu.
Bagi keluarga mereka yang tergolong miskin, nominal tersebut bukanlah perkara mudah. Siswa SD bunuh diri di NTT ini menjadi cermin getirnya persoalan akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, jenazah bocah berumur 10 tahun itu ditemukan di kebun milik neneknya.
“korban sudah dalam keadaan tergantung pada salah satu dahan pohon (cengkeh),” kata Henry kepada Rabu, 4 Februari 2026.
Henry menuturkan, korban awalnya dibangunkan oleh ibunya untuk bersekolah pada pagi hari sekitar pukul 7.30 WITA. Bocah tersebut sempat menolak karena merasa sakit kepala, tetapi oleh ibunya tetap dipaksa berangkat.
Henry mengatakan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menemukan secarik kertas yang berisi pesan terakhir korban. “Surat korban dalam bahasa daerah Ngada, artinya (kurang lebih) selamat tinggal mama,” ucap Henry.
Kepolisian hingga saat ini masih menyelidiki kasus kematian siswa SD tersebut. “(Proses) pengumpulan keterangan dari para saksi guna memastikan secara menyeluruh rangkaian peristiwa,” ujar Henry.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mengaku pihaknya akan mencari solusi. Selain itu, dia menilai, kasus ini juga menjadi pengingat agar semua pihak harus membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun.
“Ya, ini harus menjadi cambuk ya. Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” kata Cak Imin di kawasan Gambir, Jakarta seperti dikutip, Rabu (4/2/2026).
Sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT dan berusia 47 tahun. Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:
“Surat buat Mama •••
Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi Jangan menangis ya. Mama Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya Selamat tinggal Mama”.
Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibundanya, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.
Redaksi
Related Posts
Maret 19, 2026
Maret 16, 2026
Maret 7, 2026