Beranda / Berita Daerah / Pemekaran Papua Utara dan Masa Depan yang Dipertaruhkan: Lonceng Pembangunan atau Lonceng Kematian

Pemekaran Papua Utara dan Masa Depan yang Dipertaruhkan: Lonceng Pembangunan atau Lonceng Kematian

Bagikan Berita

Newsoneindoneisa.com| Jayapura–Pemerhati politik Papua, Victor Buefar, menyampaikan pandangan kritisnya terkait wacana pemekaran Papua Utara yang kembali mengemuka di tengah masyarakat pada Jumat 20/02/2026.
Menurutnya, pro dan kontra bukanlah ancaman, melainkan tanda bahwa akal sehat masih bekerja.
“Tulisan ini bukan untuk membungkam siapa pun, tetapi untuk berbicara jujur, terbuka, dan bertanggung jawab. Apa yang saya sampaikan bukan opini kosong, melainkan kenyataan yang kami hidupi setiap hari,” ujarnya.
Victor menegaskan bahwa kekhawatiran utama masyarakat bukan sekadar perubahan peta wilayah, melainkan masa depan generasi anak cucu Papua yang dipertaruhkan.
Ia mengingatkan agar isu besar seperti pemekaran tidak digaungkan secara berlebihan hingga menjadi “lonceng kematian” bagi generasi mendatang.
Menurutnya, selama ini banyak pihak dari luar datang dan mengisi posisi strategis sebagai TNI, Polri maupun ASN di tanah Papua.
Sementara itu, anak-anak Papua kerap dicap tidak mampu, dilekatkan stigma negatif, bahkan dianggap memiliki kemampuan intelektual rendah. Padahal mereka mengikuti proses seleksi dan berjuang dengan keras.
“Yang sering berbicara hanyalah angka, nilai, kuota dan peringkat, tanpa melihat konteks, tanpa empati, dan tanpa keadilan,” tegasnya.
Victor juga mengingatkan agar kebijakan yang diambil tidak menjadi “bom waktu” yang suatu saat meledak dan menjadi bumerang di masa depan.
Ia menilai bahwa pembangunan selama ini terlalu berfokus pada infrastruktur fisik, sementara pembangunan sumber daya manusia (SDM) belum menjadi prioritas utama.
“Kami sudah terlalu sering mengawal Otsus, tetapi yang dibangun justru gedung dan simbol, bukan manusianya. Padahal yang paling mendesak adalah membangun SDM,” katanya.
Ia mengajak semua pihak untuk memperhatikan anak-anak Papua yang sedang menempuh pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri. Di tangan merekalah masa depan Papua sesungguhnya dipertaruhkan.
Victor menegaskan bahwa dirinya tidak berbicara tentang kemerdekaan, melainkan tentang masa depan generasi Papua di atas tanah leluhur mereka sendiri.
Ia mendorong agar pemerintah menyiapkan wadah besar untuk membangun ekonomi kerakyatan berbasis sumber daya alam seperti pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, serta komoditas ekspor demi kemandirian pangan.
“Jangan hanya berpikir dari balik meja rapat ber-AC. Gunakan otak, nurani, dan kepekaan membaca situasi nyata di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi sosial yang menurutnya membuat generasi Papua berjalan dalam kebimbangan dan mengalami tantangan serius dalam mempertahankan karakter dan nilai-nilai hidup.
Dalam pernyataannya, Victor mengutip ayat Alkitab dari Kitab Yesaya 10:1–2 yang berbunyi:
“Celakalah mereka yang menetapkan ketetapan-ketetapan yang tidak adil, dan mengeluarkan keputusan-keputusan yang lalim, untuk menghalang-halangi orang lemah mendapat keadilan, dan merampas hak orang sengsara di antara umat-Ku.”
Ia juga mengingatkan pemikiran filsuf Jerman, Immanuel Kant, yang menyatakan, “The children of tomorrow are the judges of today.”
Sebagai penutup, Victor menegaskan bahwa setiap kebijakan, setiap pemekaran, dan setiap janji yang diucapkan hari ini pada akhirnya akan dinilai bukan oleh panggung kekuasaan, melainkan oleh nasib generasi anak cucu Papua di masa depan.
“Jika hari ini kita lalai, maka esok bukan sejarah yang menghakimi kita, melainkan air mata anak-anak kami sendiri,” tutupnya.
Ivan/Red

Bagikan Berita
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *