Newsoneindonesia.com
Gunung Dukono – Dua warga negara asing (WNA) korban erupsi Gunung Dukono ditemukan dalam kondisi tinggal tulang belulang meski baru sekitar dua hari pasca kejadian, Minggu (10/5/2026).
Kondisi tersebut sempat menimbulkan pertanyaan dan perhatian masyarakat luas.
Berdasarkan penjelasan yang dihimpun, kondisi korban yang tinggal tulang belulang dinilai masuk akal secara ilmiah. Saat erupsi terjadi, korban diduga berada tepat di jalur aliran piroklastik, yakni campuran gas panas, abu vulkanik, dan material batuan yang meluncur dengan kecepatan tinggi dari gunung berapi.

Aliran piroklastik diketahui memiliki suhu sangat ekstrem, diperkirakan mencapai 600 hingga 900 derajat Celcius. Pada suhu setinggi itu, tubuh manusia dapat mengalami kerusakan sangat cepat. Daging, kulit, otot, hingga pakaian dapat terbakar dalam waktu singkat sehingga yang tersisa hanyalah tulang belulang.
Sementara itu, korban lain yang berada lebih jauh dari pusat aliran panas atau terlindung dari jalur utama erupsi umumnya hanya terkena abu panas dan material vulkanik ringan, sehingga kondisi jenazah masih relatif utuh.
Peristiwa tragis ini menjadi pengingat akan bahaya aktivitas vulkanik dan pentingnya mematuhi zona larangan di sekitar gunung berapi demi keselamatan bersama.









