Newsoneindonesia.com, Kupang – Pemuda mahasiswa Sandiang Kaya Ndapa Namung tampil membawakan pidato bertema “Merawat Hak Demokrasi Rakyat, Menolak Otoritarianisme” dalam ajang Lomba Pidato Bulan Bung Karno yang diselenggarakan oleh DPD PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Di hadapan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT beserta jajaran, dewan juri, panitia, tamu undangan, dan para peserta, Sandiang membuka pidatonya dengan mengajak seluruh hadirin bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan mengikuti kegiatan yang sarat dengan semangat kebangsaan tersebut.
Mengawali penyampaiannya, Sandiang mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang berbunyi, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Menurutnya, kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan bangsa saat ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan menjaga nilai-nilai demokrasi agar tetap hidup di tengah dinamika zaman.
Dalam pidatonya, Sandiang menegaskan bahwa demokrasi merupakan fondasi utama berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia menyampaikan bahwa demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan pemilihan umum setiap lima tahun, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap hak-hak rakyat setiap hari.
“Demokrasi hidup ketika rakyat bebas menyampaikan pendapat tanpa rasa takut, ketika hukum ditegakkan secara adil tanpa membedakan status sosial maupun jabatan, serta ketika kritik dipandang sebagai bentuk kepedulian, bukan ancaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa otoritarianisme sering muncul secara perlahan ketika masyarakat mulai takut menyampaikan pendapat, kritik dianggap sebagai musuh, dan kekuasaan tidak lagi diawasi secara sehat. Karena itu, menurutnya, menolak otoritarianisme bukan berarti menolak negara atau pemerintah, melainkan menjaga agar penyelenggaraan kekuasaan tetap berjalan sesuai konstitusi, hukum, dan nilai-nilai demokrasi.
Sebagai bagian dari generasi muda, Sandiang mengajak kaum muda untuk menjadi penjaga demokrasi dengan mengedepankan dialog, menghargai perbedaan pendapat, melawan hoaks dan disinformasi, serta menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab, terutama di era digital yang penuh tantangan.
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital agar media sosial menjadi ruang pendidikan politik yang sehat, bukan sarana penyebaran fitnah maupun provokasi.
Menutup pidatonya, Sandiang mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat komitmen menjaga demokrasi, menghormati hak-hak rakyat, serta menolak segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan.
“Demokrasi yang dirawat akan melahirkan keadilan, dan keadilan akan melahirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutupnya, yang disambut tepuk tangan para hadirin.
Melalui pidato tersebut, Sandiang Kaya Ndapa Namung menunjukkan komitmennya sebagai pemuda mahasiswa yang peduli terhadap kehidupan demokrasi, supremasi hukum, dan nilai-nilai Pancasila, sekaligus mengajak generasi muda untuk terus menjaga persatuan bangsa melalui partisipasi aktif dalam kehidupan demokrasi Indonesia.










