Beranda / Berita / Ketika Hukum Kehilangan Kekuatannya Dan Rakyat Menangung Luka: Papua Dalam Bayang-bayang Ketidakadilan Victor Buefar: Papua Membutuhkan Keadilan, Bukan Sekadar Pembangunan

Ketika Hukum Kehilangan Kekuatannya Dan Rakyat Menangung Luka: Papua Dalam Bayang-bayang Ketidakadilan Victor Buefar: Papua Membutuhkan Keadilan, Bukan Sekadar Pembangunan

Bagikan Berita

Newsoneindonesia.com
Jayapura – Pemuda Papua, Victor Buefar, menyampaikan keprihatinannya terhadap situasi kemanusiaan yang terus terjadi di Tanah Papua, pada Rabu 22/07/2026

Menurutnya, pembangunan yang terus digaungkan pemerintah harus berjalan seiring dengan penegakan keadilan, penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat, serta perlindungan terhadap warga sipil.

Dalam refleksinya, Victor mengutip Firman Tuhan dari Habakuk 1:4, “Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.”

Menurutnya, ayat tersebut sangat relevan dengan kondisi Papua saat ini, ketika masyarakat kecil masih merasakan ketidakadilan di tengah berbagai program pembangunan.

Victor menilai Papua sedang menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Di satu sisi, pemerintah terus mendorong pembangunan melalui berbagai investasi dan Proyek Strategis Nasional (PSN). Namun di sisi lain, masih banyak masyarakat yang mengalami pengungsian akibat konflik, kehilangan ruang hidup, kesulitan memperoleh layanan pendidikan dan kesehatan, serta menghadapi trauma sosial yang berkepanjangan.

“Pertanyaan yang harus dijawab adalah, pembangunan ini sesungguhnya untuk siapa, dan kemajuan itu dinikmati oleh siapa?” ujarnya.

Ia mengatakan berbagai laporan sepanjang tahun 2026 dari gereja, kelompok masyarakat sipil, dan media lokal menunjukkan masih adanya pengungsian warga sipil di sejumlah wilayah Papua akibat konflik bersenjata.

Dampak terbesar, menurutnya, dirasakan oleh perempuan, anak-anak, lansia, dan masyarakat yang rentan.

Selain itu, Victor menyoroti meningkatnya kekhawatiran masyarakat adat terhadap pelaksanaan sejumlah Proyek Strategis Nasional, terutama terkait perlindungan hak ulayat, kelestarian lingkungan, serta pentingnya persetujuan masyarakat adat sebelum pembangunan dilaksanakan.

Ia juga menilai pembentukan Panitia Khusus Penanganan Konflik dan Kemanusiaan Papua oleh DPD RI menjadi sinyal bahwa persoalan Papua merupakan isu nasional yang memerlukan perhatian serius.

Menurut Victor, Papua tidak boleh hanya dipandang sebagai kawasan investasi.
“Papua adalah tanah kehidupan.

Tanah ini adalah rumah bagi masyarakat adat, sejarah, budaya, dan masa depan generasi Papua. Pembangunan harus memuliakan manusia, bukan justru mengorbankan mereka,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pembangunan bukan berarti menolak pembangunan itu sendiri.

Sebaliknya, kritik merupakan bentuk kepedulian agar pembangunan berjalan secara adil, melibatkan masyarakat, menghormati hak masyarakat adat, melindungi lingkungan hidup, serta memastikan masyarakat Papua menjadi pelaku utama pembangunan di tanahnya sendiri.

Victor juga menyoroti masih adanya kesenjangan antara besarnya anggaran pembangunan dengan kondisi masyarakat di lapangan.

“Papua tidak kekurangan program. Papua terlalu sering kekurangan keberpihakan.

Papua tidak kekurangan pejabat, tetapi terlalu sering kekurangan pemimpin yang mau mendengar jeritan rakyat,” tegasnya.

Ia mendorong agar pemerintah lebih mengedepankan pendekatan dialog, perlindungan terhadap warga sipil, penyelesaian konflik secara damai, serta menjadikan keadilan sosial sebagai dasar setiap kebijakan pembangunan di Papua.

Sebagai seorang yang beriman, Victor mengajak seluruh masyarakat untuk tetap memiliki harapan.

Menurutnya, iman yang benar bukan berarti mengabaikan kenyataan, melainkan memberikan kekuatan untuk tetap memperjuangkan kebenaran, membela kemanusiaan, dan terus berharap kepada Tuhan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Papua.

Ia meyakini bahwa masa depan Papua masih penuh harapan apabila keadilan benar-benar ditegakkan.

“Papua bukan tanah kutuk, melainkan tanah yang diberkati Tuhan. Saya percaya Papua akan tersenyum. Bukan karena lukanya kecil, tetapi karena Tuhan tidak pernah meninggalkan tanah ini.

Ketika keadilan ditegakkan, pembangunan berpihak kepada manusia, tanah adat dihormati, para pengungsi dipulihkan, dan air mata rakyat tidak lagi dianggap biasa, maka Papua bukan hanya akan bangkit, tetapi akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa,” tutup Victor Buefar.

Ivan/Red


Bagikan Berita
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *