Beranda / Berita / Amirudin Bantah Klaim Damai, Warga Curug Sangereng Desak Permintaan Maaf Terbuka

Amirudin Bantah Klaim Damai, Warga Curug Sangereng Desak Permintaan Maaf Terbuka

Bagikan Berita

Kabupaten Tangerang, newsoneindonesia.com — Polemik yang terjadi di Kampung Curug Sangereng, RW/RT, 06/03, Desa Curug Sangereng, Kecamatan Kelapa Dua, pada Rabu (9 April 2026), kian memanas dan menyita perhatian publik.

Peristiwa ini mencuat setelah viral di berbagai platform media sosial, termasuk TikTok, hingga mengundang sejumlah awak media turun langsung ke lokasi untuk menggali informasi serta fakta yang akurat dari warga setempat.

Amirudin, warga yang disebut dalam pernyataan pihak Lurah Petir Cipondoh inisial BW, secara tegas membantah klaim bahwa persoalan telah diselesaikan secara damai. Ia mengaku hingga saat ini belum pernah menerima permintaan maaf secara langsung.

“Tidak ada sama sekali permintaan maaf kepada saya,” tegas Amirudin saat ditemui di kediamannya.

Sebelumnya, oknum Lurah Petir disebut telah menyampaikan kepada awak media melalui telpon seluler bahwa permasalahan tersebut telah diselesaikan, termasuk adanya permohonan maaf.

“Nggaklah Istri saya sudah minta maaf, intinya Pak Amirrudin yang menulis konsep tersebut biar gak ada perkara naik apalah, ada videonya buka aja” ucap Lurah Petir

Namun, pernyataan itu justru bertolak belakang dengan fakta yang disampaikan Amirudin.
Ketua RT setempat, Samsudin, berharap polemik ini dapat diselesaikan secara bijak tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan di tengah masyarakat.

Di sisi lain, tekanan dari warga mulai menguat. Sejumlah masyarakat Curug Sangereng mendesak agar oknum Lurah Petir beserta Istrinya segera menunjukkan itikad baik dengan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Tokoh masyarakat, Hasan Basri, menilai tindakan oknum lurah BW tersebut telah menyinggung perasaan warga dan memperkeruh suasana.

“Kami berharap ada itikad baik untuk meminta maaf, bukan hanya kepada Amirudin, tetapi juga kepada seluruh warga RW/RT 06/03 Desa Curug Sangereng,” ujarnya.

Menurut Hasan, kedatangan oknum lurah bersama istrinya dinilai tidak beretika karena tanpa koordinasi dengan perangkat RW/RT setempat, sehingga memicu ketegangan dan kegaduhan di lingkungan warga.

Hingga kini, masyarakat masih menanti klarifikasi resmi dan langkah konkret dari pihak terkait agar situasi kembali kondusif serta tidak berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas.


Bagikan Berita
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *