Beranda / Berita / Arus Modernisasi Dinilai Gerus Adat, Masyarakat Diajak Jaga Nadi Budaya Papua

Arus Modernisasi Dinilai Gerus Adat, Masyarakat Diajak Jaga Nadi Budaya Papua

Bagikan Berita

Jayapura, newsoneindonesia.com – Tanah Papua saat ini dinilai tengah menghadapi tantangan serius di tengah derasnya arus modernisasi.

Kekhawatiran muncul dari berbagai elemen masyarakat terkait masa depan perdamaian dan kelestarian adat istiadat yang selama ini menjadi jati diri orang Papua.

Dalam sebuah rilis publik yang beredar di Jayapura, disoroti bahwa nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, musyawarah, serta hukum adat yang dahulu menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat mulai mengalami pergeseran.

Gaya hidup modern yang serba instan dan materialistis disebut perlahan mengikis sendi-sendi budaya lokal.

“Papua dikenal dengan adat yang kuat dan bermartabat. Namun realitas hari ini menunjukkan adanya tanda-tanda yang mengkhawatirkan.

Nilai kebersamaan dan cara hidup yang menjunjung tinggi dialog kini mulai tergeser oleh logika uang,” bunyi rilis tersebut.

Fenomena “uang menjadi segalanya” dinilai tidak hanya terjadi di kota, tetapi sudah merambah hingga ke pelosok-pelosok kampung.

Jika dibiarkan, kondisi ini dikhawatirkan akan melemahkan tali persaudaraan serta menggantikan cara-cara damai khas Papua dengan transaksi dan kepentingan sesaat.

“Jangan sampai anak cucu kita hanya mengenal nama sukunya, tetapi kehilangan jiwa adatnya karena semua diukur dengan rupiah,” tulis rilis itu.

Melalui rilis tersebut, masyarakat Papua diajak untuk kembali memperkuat identitas budaya dengan memulai dari lingkungan keluarga.

Literasi budaya, pengenalan nilai adat sejak dini, serta penyelesaian konflik secara bermartabat menjadi poin utama yang ditekankan.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan kembali pada filosofi hidup orang Papua yang memandang tanah sebagai ibu dan adat sebagai harga diri yang tidak bisa diperjualbelikan.

“Papua bukan sekadar wilayah, tetapi rumah nilai, martabat, dan peradaban. Kita harus menjaganya agar tetap menjadi tanah yang damai dengan adat yang kuat, bukan tanah yang kehilangan arah demi materi semata,” tulis rilis tersebut menutup pernyataannya.


Bagikan Berita
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *