Beranda / Berita / Ketika Kegiatan Kokurikuler Dijadikan Lahan Bisnis, Hal ini Berujung pada Kapitalisasi Pendidikan

Ketika Kegiatan Kokurikuler Dijadikan Lahan Bisnis, Hal ini Berujung pada Kapitalisasi Pendidikan

Bagikan Berita

Newsoneindonesia.com| Kabupaten Tangerang–Salah satu indikasi nyata dari ketidakhadiran Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam dunia pendidikan adalah, diduga melakukan pembiayaran terhadap sekolah yang kemas kegiatan kokurikuler menjadi ladang bisnis terselubung, Kamis (12/2/2026).
Hal ini berujung pada kapitalisasi pendidikan, di mana pendidikan tidak lagi dipandang sebagai hak, melainkan sebagai ladang bisnis yang hanya mencari keuntungan. Dalam kapitalis, akses terhadap pendidikan menjadi terbatas, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.
Pendidikan seharusnya menjadi hak dasar setiap warga negara, yang diakui dan dilindungi oleh negara. Namun, dalam sistem kapitalisme, terlihat jelas.
Kokurikuler adalah kegiatan  pembelajaran yang di laksanakan  dengan tujuan memperkuat , mendalami  atau mengembangkan  kompetensi siswa, terutama dalam hal karakter.
Tujuan dari kokurikuler adallah  untuk membentuk kompetensi siswa secara utuh, baik dari sisi pengetahuan , ketrampilan ,maupun karakter. Salah satu indikator penting pelaksanaan kokurikuler adalah asesmen.
Beberapa waktu belakangan, publik dihebohkan dengan sejumlah orangtua siswa SMP Negeri II Pagedangan, Kabupaten Tangerang, yang mengeluhkan biaya kegiatan kurikuler yang dinilai memberatkan bagi mereka yang kurang mampu, dimana baru-baru ini dikabarkan melakukan kunjungan wisata dengan tujuan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pada hari, Rabu (3/2/2026).
Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 650 (Enam Ratus Ribu Rupiah) mungkin tidak berarti bagi orang tua yang ekonominya mapan. Namun bagi orang yang kehidupannya pas-passan, nominal yang nilainya tidak seberapa ini sungguh sangat berharga untuk menyambung hidup.
Mengapa tidak ada orang tua wali murid yang protes atau memutuskan untuk tidak mengikuti program study tour dengan bungkusan kemasan(Kokurikuler), yang diselenggarakan sekolah ini. Karena jawabannya adalah tidak semua orang tua berani untuk speak up (bicara) atau mengungkapkan kesulitan ekonomi mereka.
Berdasarkan pengakuan wali murid saat menjemput anaknya yang baru saja pulang dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengikuti program kokurikuler yang diselenggarakan SMPN II Pagedangan, dia membenarkan adanya iuran untuk perjalanan study tour.
“Pulang study tour dari taman mini, bayar atuh, mana ada yang gratis, bayarnya kalau nggak salah Rp. 650 Ribu,” ujar Wali Murid yang enggan menyebutkan namanya saat menjemput buah hatinya.
Sementara, Agus Santosa yakni Kepala Sekolah SMPN II Pagedangan sangat sulit sekali untuk dikonfirmasi, terkesan seperti alergi terhadap publikasi. Karena sudah beberapa kali Wartawan mendatangi sekolahnya namun Kepsek ini selalu tidak ada ditempat.
Tak sampai disitu, awak media mencoba menghubunginya melalui Chat WhatsApp pribadinya, namun upaya yang dilakukan Wartawan ini hasilnya tetap nihil yaitu tanpa ada balasan sepatah katapun.
Padahal publik hanya ingin mendengar penjelasan darinya langsung mengenai transparansi rincian biaya study tour sebesar Rp. 650 Ribu ini yang dibebankan kepada wali murid.
Sampai berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi dari Kepala Sekolah SMPN II Pagedangan.
(Dn/Red)

Bagikan Berita
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *