Newsoneindonesia.com
Jayapura,— H. Supriyadi Laling memberikan klarifikasi resmi terkait keterlambatan penyelesaian pembayaran hadiah dalam ajang Cendrawasih Papua Cup yang sempat menjadi sorotan publik pada Jumat 20/02/2026.
Menurut H. Supriyadi Laling, akar permasalahan keterlambatan pembayaran hadiah bersumber dari pihak sponsor utama, yakni HGI yang berkantor pusat di Jakarta.
Sponsor tersebut sebelumnya telah berkomitmen untuk menanggung 100 persen total hadiah sebesar Rp335.000.000.
Ia menjelaskan bahwa sejak H-5 sebelum pelaksanaan kegiatan, persiapan telah mencapai 99 persen.
Namun terdapat kendala teknis, khususnya terkait penggunaan aplikasi berbasis teknologi masih kurang digunakan di Papua.
Meski demikian, kegiatan tetap dijalankan karena seluruh proses administrasi dan teknis telah berjalan.
Dari sisi pendanaan, uang pendaftaran yang terkumpul untuk kebutuhan persiapan, pendaftaran peserta, dan sponsor lokal hanya mencapai Rp 245.000.000 sementara total hadiah yang dijanjikan sebesar Rp335.000.000 dan biaya oporasional panitia, tempat dan akomodasi masih kekurangan 300.000.000
“Pada awalnya kegiatan ini hampir dibatalkan karena terjadi persoalan dengan pihak tempat penyelenggara.
Bahkan kami sudah berencana mengembalikan seluruh uang pendaftaran peserta.
Namun setelah rapat internal bersama Ibu Ketua di Sentani, diputuskan kegiatan tetap dilaksanakan,” ujar H. Supriyadi Laling.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada dana dari pemerintah kota maupun provinsi dalam kegiatan tersebut.
Seluruh pembiayaan murni bersumber dari dana pribadi dan partisipasi peserta.
Terkait tudingan yang beredar, H. Supriyadi Laling membantah keras adanya unsur korupsi atau penyalahgunaan dana.
“Tidak ada dana pemerintah yang digunakan.
Semua murni dari uang pribadi.
Tidak ada yang kami korupsi,” tegasnya.
Setelah pelaksanaan kegiatan, panitia sempat melakukan rapat bersama Ketua PORDI Kabupaten, namun hingga kini yang bersangkutan disebut belum pernah hadir dalam pertemuan lanjutan.
H. Supriyadi Laling pun mengambil inisiatif secara pribadi untuk menyelesaikan tanggung jawab pembayaran hadiah.
Ia mengungkapkan bahwa satu hari setelah kegiatan, dirinya mengundang para pemenang yang belum menerima hadiah, khususnya juara satu dan juara dua, untuk melakukan komunikasi dan meminta waktu dua minggu guna melunasi seluruh kewajiban.
Kesepakatan pun telah dicapai bersama para pihak.
Namun, situasi kembali memanas setelah persoalan tersebut diviralkan di media sosial, padahal menurutnya Rp20.000.000 sudah sepakat untuk di berikan sebagai bentuk pertanggungjawaban awal sambil menunggu pelunasan penuh.
“Saya bukan penanggung jawab teknis pelaksanaan.
Secara teknis itu tanggung jawab panitia pelaksana.
Kami di kepengurusan provinsi hanya sebagai payung organisasi.
Namun karena situasi berkembang, saya ambil alih tanggung jawab agar persoalan ini bisa segera diselesaikan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam berbagai kegiatan, termasuk event berskala nasional seperti Pekan Olahraga Nasional, penyerahan hadiah terkadang juga memerlukan waktu satu hingga dua bulan setelah pelaksanaan.
H. Supriyadi Laling menilai dinamika yang terjadi merupakan bagian dari proses berorganisasi.
Ia memastikan bahwa penyelesaian hadiah tinggal menyisakan sebagian yang sedang dalam pembahasan internal dengan pihak terkait.
“Kami tetap berkomitmen menyelesaikan semua kewajiban yang tinggal juara 2 dan 1 umum yang belum diberikan dan akan diberikan minggu depan.
Ini murni dinamika organisasi, bukan persoalan penyalahgunaan dana,” pungkasnya.
Ivan/Red










