newsoneindonesia.com || Jakarta–Sosok Sultan Tidore Zainal Abidin Syah dikenal bukan hanya sebagai pemimpin adat, tetapi juga sebagai tokoh yang memainkan peranan penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda.
Atas jasanya di bidang perjuangan politik dan diplomasi, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Zainal Abidin Syah.Penganugerahan berlangsung di Istana Negara, Senin, 10/11/2025 pagi.
Nama Zainal Abidin Syah tercatat dalam sejarah sebagai Gubernur Irian Barat pertama. Ia diangkat berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 142 Tahun 1956, ketika hubungan Indonesia–Belanda memanas akibat kegagalan perundingan mengenai status Irian Barat di Sidang Umum PBB tahun 1954.
Kegigihannya dalam jalur diplomasi berangkat dari keyakinan historis: bahwa Irian Barat merupakan bagian dari Kesultanan Tidore sejak abad ke-19. Dari situlah ia membangun dasar argumentasi politik, bahwa wilayah itu secara kultural dan historis sah menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Sebagai tindak lanjut atas keputusan politik nasional, Pemerintah Indonesia membentuk Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibu kota sementara di Soasio, Tidore. Sultan Tidore ditetapkan sebagai gubernur, dengan tugas utama memperkuat legitimasi politik Indonesia di mata internasional.
Diplomasi yang dijalankannya tidak berhenti di meja politik. Dalam berbagai forum, ia berperan menjembatani kepentingan pusat dan masyarakat Papua, menegaskan bahwa integrasi Irian Barat bukan sekadar keputusan politik Jakarta, melainkan kehendak sejarah bangsa.
Sikap tegasnya terhadap Belanda sudah tampak jauh sebelum itu. Pada Februari 1949, ketika Belanda berusaha membujuknya agar menandatangani pernyataan menyerahkan Irian Barat, Zainal Abidin Syah menolak dengan lantang.
“Saya tidak akan berkhianat kepada rakyat,” ucapnya tegas, menolak segala bentuk kompromi yang mengingkari kedaulatan Indonesia.
Setelah diangkat secara tetap melalui Keputusan Presiden RI Nomor 220 Tahun 1961, Zainal Abidin Syah turut diperbantukan dalam Operasi Mandala di Makassar, yang menjadi bagian dari strategi politik dan militer Indonesia di bawah komando Presiden Soekarno untuk merebut Irian Barat.
Zainal Abidin Syah wafat pada 4 Juli 1967. Jenazahnya sempat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha, Ambon, sebelum akhirnya dipindahkan ke Sonyine Soloka, pelataran emas Kedaton Kesultanan Tidore pada 11 Maret 1986.
Kini, hampir enam dekade setelah wafatnya, perjuangan diplomatik Sultan Tidore itu diakui negara. Penghargaan Pahlawan Nasional yang diterimanya menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kedaulatan tidak selalu dengan senjata, tetapi juga dengan keteguhan politik, diplomasi, dan keyakinan terhadap sejarah bangsanya.
(Red).










