Newsoneindonesia.com| Tangerang Kabupaten– Integritas pembangunan di wilayah Kecamatan Kelapa Dua kini berada di titik nadir. Proyek pengaspalan jalan hotmix di Jl. Swadaya RT 02/RW 04, Kelurahan Kelapa Dua, yang dibiayai oleh keringat rakyat melalui APBD, bertransformasi menjadi panggung sandiwara arogansi kontraktor dan ketidakberdayaan pejabat teknis.
Hasil pantauan lapangan pada Sabtu (25/04/2026) mengungkap fakta memprihatinkan, hamparan hotmix tampak kasar, berpori, dan diameter ketebalan yang sangat tipis diduga kuat jauh di bawah standar. Kondisi ini memicu dugaan adanya manipulasi spesifikasi material yang merugikan keuangan daerah.
Proyek yang seharusnya dikerjakan dengan standar kualitas tinggi ini justru mempertontonkan hasil yang memuakkan, hotmix sekasar ampelas dan setipis kertas, diduga kuat menjadi ajang korupsi spesifikasi demi keuntungan segelintir oknum.
Bukannya memberikan klarifikasi berbasis data teknis, Desi alias Falla, selaku kontraktor pelaksana, justru mempertontonkan sikap petantang-petenteng yang menghina fungsi kontrol sosial. Dalam sebuah pernyataan yang sangat provokatif, ia secara terang-terangan membentengi diri dengan klaim koordinasi massa media, sebuah tindakan yang disinyalir kuat untuk membungkam kritik atas buruknya mutu pekerjaan di lapangan.
Foto Istimewa
“Jangan tanya tanggapan kalau saya. Abang tahu tidak isi RAB ada apa di dalamnya? Ngurusin media saja sudah 40 orang di lapangan. Dinas kecamatan ada di lapangan, rekan kontrol sosial lengkap juga, berarti menurut saya cukup,” bentak Desi dengan nada penuh intimidasi.
Pernyataan ini mengundang tanya. Apakah standar kualitas Proyek di Kelapa Dua kini diukur dari berapa banyak orang yang dikondisikan di lapangan daripada mengikuti spesifikasi teknik dalam Daftar Rencana Umum Pengadaan (RUP), Jika benar sesuai spek, mengapa tekstur Hotmix begitu kasar, tipis, dan berpori lebar. Mengapa ketebalan yang terlihat secara kasat mata diduga jauh dari standar aspal lapis yakni kurang dari 4 cm.
Kapoor, selaku pengawas dari Kecamatan Kelapa Dua, saat dikonfirmasi justru mengarahkan awak media untuk menghubungi Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).
“Punya Des, abang ada di lokasi gak? Kalau ada bahasa gelar ulang coba abang WA juga PPTK,” ujar Kapoor.
Senada dengan Kapoor, Afi selaku PPTK Kecamatan Kelapa Dua juga belum memberikan jawaban teknis terkait dugaan ketidaksesuaian spek tersebut. Ia mengaku baru akan melakukan pengecekan di awal pekan.
“Paling saya cek Senin, Bang. Makasih infonya. Abang kemarin ke lokasi tidak. Beberapa media kemarin juga ada di sana,” dalih Afi.
Penundaan pengecekan ini adalah bentuk pembiaran yang sistematis, memberi waktu bagi kontraktor untuk menutup-nutupi kecacatan pekerjaan yang sudah terlanjur mengeras.
Kondisi ini memicu kritik keras dari Aldy C.BJ, seorang Aktivis Masyarakat. Ia menilai kinerja pengawas dan PPTK Kecamatan Kelapa Dua sangat lemah sehingga memberi celah bagi kontraktor untuk bekerja di bawah standar.
“Dari segi visual saja sudah terlihat kualitasnya buruk. Pengawas dan PPTK jangan tutup mata. Kalau kualitas jelek dibiarkan, itu artinya fungsi pengawasan mandul. Kami mendesak Camat Kelapa Dua segera turun ke lapangan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) dan menindak tegas oknum yang bermain dengan kualitas infrastruktur publik ini,” tegas Aldy
Masyarakat kini menanti keberanian Camat Kelapa Dua untuk menegakkan Peraturan Bupati terkait Standar Harga dan Kualitas Barang. Rakyat tidak butuh Aspal atau Hotmix bedak yang hancur dalam sebulan, rakyat butuh pertanggungjawaban nyata atas setiap rupiah pajak yang mereka bayarkan
Sampai berita ini diterbitkan, Camat Kelapa Dua selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) belum dikonfirmasi.