Newsoneindonesia.com, Tangerang — Persoalan banjir masih menjadi pekerjaan rumah di Perumahan Dasana Indah, Kelurahan Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi, sejumlah ruas jalan utama di kawasan tersebut kerap terendam air.
Jalan raya utama yang menjadi akses vital keluar-masuk Perumahan Dasana Indah menjadi salah satu titik yang paling terdampak. Kendaraan roda empat maupun roda dua dari dua arah, baik dari dalam perumahan maupun dari arah Jalan Raya Legok, sebagian besar harus melintasi jalur tersebut.
Ketika banjir terjadi, arus kendaraan roda empat kerap mengalami penumpukan hingga menimbulkan kemacetan. Sementara pengendara roda dua biasanya memilih jalur alternatif melalui jalan lingkungan warga. Tidak sedikit kendaraan roda dua yang akhirnya mogok setelah menerobos genangan.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan kapasitas saluran air yang tidak lagi sebanding dengan volume air. Selain ukuran saluran yang dinilai kurang memadai, sejumlah saluran juga mengalami pendangkalan akibat minimnya perawatan.
Beberapa titik bahkan menjadi lokasi bertemunya aliran air dari berbagai wilayah sehingga ketika hujan deras turun, kapasitas saluran tidak mampu menampung debit air dan akhirnya meluap ke badan jalan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat sejumlah titik yang dinilai rawan banjir, antara lain ruas Jalan Raya utama dari kawasan Toko Dan Dan hingga Optik Metro. Kemudian kawasan Blok RC, Blok BC dan Blok BD di sekitar SD Kampung Bambu 1.
Titik lainnya berada di Jalan Raya depan Sekretariat RW 08 dan RW 09. Di kawasan tersebut, beberapa tahun lalu pernah dilakukan sodetan pada saluran utama, tepatnya di perempatan jalan raya depan Toko Asiong, dengan tujuan memperlancar aliran air.
Namun, meski proyek tersebut disebut menelan anggaran hingga ratusan juta rupiah dari Dinas PUPR Provinsi Banten, persoalan banjir di kawasan tersebut hingga kini masih terjadi. Efektivitas pekerjaan tersebut pun menjadi perhatian warga.
Sejumlah warga yang telah lama tinggal di Perumahan Dasana Indah mengaku kondisi banjir tidak separah sekarang. Sekitar lima tahun sebelumnya, hujan dengan intensitas tinggi sekalipun dinilai belum sampai menyebabkan genangan di sejumlah ruas jalan utama.
Namun, seiring bertambahnya jumlah penduduk, volume air buangan rumah tangga juga meningkat. Selain itu, sampah yang masuk ke saluran air diduga turut memperburuk kondisi drainase.
Perubahan fungsi lahan juga menjadi salah satu hal yang disoroti. Area yang kini menjadi Stadion Sport Centre (SSC), misalnya, sebelumnya merupakan kawasan persawahan yang secara tidak langsung berfungsi sebagai daerah resapan air ketika hujan deras.
Secara geografis, aliran air dari kawasan Perumahan Dasana Indah bermuara ke saluran utama yang berada di kawasan Perumahan Villa Ilhami. Namun, sejumlah titik pertemuan aliran air hingga kini dinilai belum mendapatkan perbaikan maupun pelebaran saluran secara maksimal.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan, saluran air di kawasan SSC memiliki lebar sekitar tiga meter. Namun, ketika aliran berbelok ke arah SMK Negeri 7 yang merupakan akses utama menuju perumahan, ukuran saluran menyempit menjadi sekitar satu meter.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu titik yang berpotensi menyebabkan terjadinya penumpukan debit air.
Salah seorang warga, Zaenal Arifin, mengatakan air dari sejumlah wilayah akan berkumpul di saluran depan Toko Cosmetic Dan Dan. Aliran air dari kawasan perumahan, termasuk dari saluran di sekitar Polsek dan kantor kelurahan, juga disebut mengarah ke titik tersebut.
“Air berkumpul di saluran depan Toko Cosmetic Dan Dan. Salurannya hanya sekitar satu meter dan kondisinya juga cukup dangkal karena kurang perawatan,” ujar Zaenal.
Menurutnya, saluran di depan Toko Cosmetic Dan Dan menjadi salah satu titik pertemuan aliran air dari kawasan SSC dan permukiman warga. Dari lokasi tersebut, air kemudian mengalir melalui saluran di depan Sekolah Al-Fitian hingga menuju kali besar yang berbatasan dengan Kampung Bambu.
“Di titik inilah saluran perlu diperlebar dan diperbaiki agar mampu menampung volume air ketika hujan deras. Jangan sampai air kembali meluap dan menggenangi jalan raya utama,” katanya.
Selain saluran utama, kondisi sejumlah saluran di lingkungan permukiman warga juga dinilai memerlukan perhatian. Pendangkalan terjadi di beberapa lokasi sehingga hujan dalam waktu relatif singkat saja dapat menyebabkan saluran meluap ke jalan lingkungan.
Selama ini, warga hanya dapat melakukan kerja bakti untuk mengangkat lumpur, sampah, dan kotoran dari saluran. Namun, upaya tersebut dinilai hanya mampu mengurangi persoalan banjir dalam jangka pendek.
Zaenal juga menyoroti program aspirasi anggota dewan dari daerah pemilihan setempat. Menurutnya, sejumlah proyek lingkungan yang direalisasikan melalui aspirasi lebih banyak menyasar pembangunan atau perbaikan jalan lingkungan, sementara persoalan drainase belum menjadi prioritas.
“Ini merupakan PR bagi pemerintah dan dewan agar lebih fokus memperbaiki dan memperlebar saluran air. Misalnya dengan menggunakan U-Ditch. Tentu ini dapat membantu mengurangi dampak banjir ketika hujan lebat turun,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah daerah bersama DPRD dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan drainase di Perumahan Dasana Indah.
Revitalisasi saluran air secara menyeluruh dinilai menjadi kebutuhan mendesak, mulai dari saluran lingkungan hingga saluran utama yang menjadi jalur pembuangan air dari sejumlah kawasan.
Usulan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penanganan banjir secara sementara, tetapi diwujudkan melalui perencanaan drainase yang terintegrasi, termasuk normalisasi, pelebaran, perawatan rutin, serta peningkatan kapasitas saluran.
Bagi warga, revitalisasi total saluran air bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan kebutuhan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman serta mengurangi ancaman banjir di Perumahan Dasana Indah.










