Beranda / Berita / Relawan Tidak Berguna?” Jangan Lupakan Mereka Setelah Tujuan Tercapai

Relawan Tidak Berguna?” Jangan Lupakan Mereka Setelah Tujuan Tercapai

Bagikan Berita

Newsoneindonesia.com, JAYAPURA — Ungkapan “relawan tidak berguna” dinilai menjadi salah satu bentuk kekecewaan yang kerap muncul setelah seseorang yang sebelumnya didukung berhasil memperoleh posisi atau menduduki jabatan tertentu, pada Kamis 08/10/2026

Pandangan tersebut disampaikan Darius Dapa, S.H., yang menyoroti pentingnya menghargai keberadaan dan kontribusi relawan dalam setiap proses perjuangan, khususnya ketika relawan telah memberikan dukungan secara sukarela sejak dari tingkat akar rumput.

Menurut Darius, relawan pada dasarnya bekerja dengan sukarela dan rela berkorban. Mereka tidak hanya hadir ketika sebuah perjuangan membutuhkan dukungan, tetapi ikut mengambil bagian dalam proses membangun kepercayaan dan menggalang dukungan masyarakat.

“Tidak heran kita mendengar ucapan bahwa relawan tidak berguna. Padahal, relawan bekerja dengan suka dan rela, berkorban demi perjuangan serta kepentingan bersama,” ujar Darius.

Relawan Juga Memiliki Kebutuhan

Darius mengatakan, dalam kehidupan sosial, setiap orang memiliki kebutuhan, keterbatasan, maupun persoalan yang membutuhkan perhatian.

Karena itu, menurutnya, hubungan antara relawan dan pihak yang didukung seharusnya tidak berhenti setelah tujuan perjuangan tercapai atau setelah seseorang memperoleh posisi tertentu.

“Sebagai makhluk sosial, manusia dalam berinteraksi dengan orang lain tentu memiliki kebutuhan dan kekurangan yang membutuhkan perhatian. Hal ini juga berlaku bagi para relawan yang selama proses perjuangan telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan pengorbanan,” katanya.

Ia menilai, kekecewaan dapat muncul ketika orang-orang yang sebelumnya berada di garis perjuangan justru merasa dilupakan setelah tujuan bersama tercapai.

“Jangan sampai muncul kesan, butuh saat ada niat, lupa saat niatnya tercapai,” ujarnya.

Kekecewaan Dapat Memicu Konflik

Menurut Darius, pengalaman merasa tidak dihargai atau dilupakan berpotensi menimbulkan kekecewaan di kalangan relawan. Jika tidak dikelola dengan baik, kekecewaan tersebut dapat berkembang menjadi persoalan sosial dan memengaruhi hubungan antarkelompok maupun antarindividu.

“Pengalaman seperti ini tentu sangat mengecewakan dan bisa menimbulkan konflik horizontal, bahkan kawan dapat berubah menjadi lawan,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak semua pihak yang pernah mendapatkan dukungan relawan agar tetap menjaga komunikasi dan hubungan baik setelah proses perjuangan selesai.

Relawan dan Kandidat Merupakan Bagian dari Perjuangan

Darius menegaskan bahwa relawan dan kandidat merupakan bagian dari satu rangkaian perjuangan yang tidak mudah dipisahkan.

Relawan, kata dia, memiliki basis akar rumput yang tersebar di berbagai wilayah. Keberadaan mereka menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dengan masyarakat serta menyampaikan gagasan dan program yang diperjuangkan.

“Relawan dan kandidat adalah satu jajaran perjuangan yang tidak mudah dipisahkan karena relawan berbasis pada akar rumput yang terus tumbuh di berbagai pelosok tanah ini,” jelasnya.

Ia menilai, kontribusi relawan perlu dihargai bukan semata-mata karena dukungan yang diberikan pada saat perjuangan, tetapi juga karena relawan merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk didengar dan dihargai.

“Melupakan relawan sama halnya dengan menutup pintu angin. Karena itu, jangan hanya mengingat relawan ketika membutuhkan dukungan.
Setelah perjuangan selesai, komunikasi dan penghargaan terhadap mereka tetap harus dijaga,” pungkas Darius.

Menurutnya, membangun hubungan yang sehat antara pemimpin, kandidat, relawan, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam menjaga persatuan serta mencegah munculnya kekecewaan yang dapat berkembang menjadi konflik di tengah masyarakat.

Ivan/Red


Bagikan Berita
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *